Alasan Kenapa Harga Gas Elpiji Akan Segera Naik

Harga gas LPG non subsidi seperti elpiji 12 kg diusulkan naik. Hal ini mengacu Contract Price Aramco (CPA) yang melonjak. Terlebih lagi, harga gas LPG non subsidi tidak pernah disesuaikan sejak 2017. Informasi apa saja yang perlu diketahui masyarakat terkait kenaikan harga LPG non subsidi ini? Berikut Okezone rangkum faktanya, Sabtu (18/12/2021):

1. Harga Sebelumnya Tak Pernah Naik

Diketahui, harga jual LPG non subsidi tak pernah naik sejak penyesuaian pada 2017 lalu. Namun, harga beli LPG terus mengalami kenaikan sejak saat itu.

Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menyebut, kurs mata uang rupiah yang terdepresiasi oleh mata uang dolar juga berpengaruh terhadap penyesuaian kali ini. "Hal ini membuat beban Pertamina semakin berat," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta beberapa waktu lalu.

2. Harga CPA yang Meningkat

Kenaikan harga yang direncanakan terjadi pada 2022 ini terjadi lantaran acuan harga LPG, Contract Price Aramco (CPA), telah melambung tinggi. Bahkan, harga minyak dunia mencatat rekor tertinggi dalam 2 tahun terakhir pada Oktober lalu. Menurut Corporate Secretary Subholding Commercial and Trading Pertamina, Irto Ginting, CPA masih berada di level USD578 per metrik ton pada 2017. Saat itu, kursnya pun masih di angka Rp13.459 per USD. Namun, harganya telah melonjak pada November 2021, yakni menjadi USD847 per MT dengan kurs Rp14.553 per USD.

3. Pengguna LPG Non Subsidi Hanya 7,5%

Pengguna gas LPG non subsidi 12 kg saat ini diketahui hanya 7,5% dari total penjualan LPG Pertamina. Meski begitu, Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menyebut harga yang tak kunjung disesuaikan hingga kini sangat berdampak pada keuangan Pertamina. Pasalnya, selisihnya terlalu besar. "Dan seharusnya karena LPG ini merupakan non subsidi, maka seharusnya memang mengikuti harga pasar yang berlaku. Sama seperti BBM yang dijual oleh SPBU swasta yang menyesuaikan dengan naik turunnya harga minyak dunia," katanya.

4. Harga Elpiji 12Kg akan Naik Rp2.000?

Harga LPG non subsidi pun diusulkan naik Rp2.000 per kilogram. Mamit mengaku harga tersebut masih bisa diterima oleh para pengguna LPG non subsidi yang mayoritas merupakan masyarakat golongan menengah ke atas. "Jadi, tidak masalah dan tidak perlu ada gejolak terkait kenaikan harga LPG non subsidi ini," ujar Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan. Meski begitu, PT Pertamina saat ini masih dalam tahap pembahasan dan review untuk menentukan besaran pasti kenaikan tersebut. "Kita masih pertimbangkan untuk naik secara bertahap. Besarannya masih kami review," tukas Irto.

5. Masyarakat Jangan Panic Buying

Irto menegaskan, rencana adanya kenaikan harga gas hanya berlaku untuk LPG non subsidi dan bukan LPG subsidi seperti 3 kg. "Jangan sampai pada panic buying, dikira semua LPG akan naik termasuk yang 3 kg," katanya [okezone]