Inidia, Gejala Varian COVID-19 Baru Omicron Yang Bisa Dikenali

Dunia harus kembali dihadapkan dengan mutasi virus COVID-19 baru B.1.1.529. Jumat 26 November kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan varian B.1.1.529 yang terdeteksi di Afrika Selatan sebagai "variant of concern" SARS-CoV-2.

WHO juga menjelaskan bahwa varian B.1.1.529 yang disebut Omicron itu menunjukkan varian berbahaya yang dapat menyebar dengan cepat.

Selain itu, diketahui pula varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan itu menyebabkan penyakit parah atau menurunkan efektivitas vaksin atau perawatan.

Lantas gejala apa yang perlu diperhatikan dari varian Omicron ini?

Terkait hal itu, dokter asal Afrika Selatan yang telah praktik selama 30 tahun yang mengepalai Asosiasi Medis Afrika Selatan (SAMA), Angelique Coetzee, mengatakan bahwa gejala dari varian Omicron tidak biasa tapi ringan pada pasien ringan.

Namun dokter yang pertama kali telah memperingatkan adanya varian Omicron ini khawatir jenis varian ini dapat menyebabkan komplikasi pada orang tua dan orang yang tidak divaksinasi.

Angelique Coetzee, mengatakan dia yakin telah menemukan jenis virus baru setelah pasien COVID-19 di praktik pribadinya di Pretoria, pasien itu kata dia menunjukkan gejala aneh.

"Gejala mereka sangat berbeda dan sangat ringan dari yang pernah saya tangani sebelumnya," kata Coetzee kepada The Telegraph.

Lebih lanjut, dia kemudian menelepon komite penasihat vaksin Afrika Selatan pada 18 November setelah sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang semuanya dinyatakan positif terkena virus dengan gejala termasuk kelelahan ekstrem.

Sejauh ini, dia memiliki dua lusin pasien yang dites positif dan menunjukkan gejala varian baru, dan kebanyakan pria muda. Sekitar setengah dari pasien tidak divaksinasi, katanya.

Tak satu pun dari mereka yang terinfeksi kehilangan indra penciuman atau rasa.

"Ini menyajikan penyakit ringan dengan gejala nyeri otot dan kelelahan selama satu atau dua hari tidak enak badan. Sejauh ini, kami telah mendeteksi bahwa mereka yang terinfeksi tidak mengalami kehilangan indera perasa atau indera penciuman. Selain itu, mereka mengalami sedikit batuk. Tidak ada gejala yang menonjol. Dari mereka yang terinfeksi, beberapa saat ini dirawat di rumah,”" kata Coetzee kepada surat kabar tersebut.

Dia menggambarkan satu "kasus yang sangat menarik" yang melibatkan seorang gadis berusia 6 tahun. Gadis itu kata dia memiliki suhu tubuh dan denyut nadi yang sangat tinggi.

"Saya bertanya-tanya apakah saya harus menerimanya. Tetapi ketika saya menindaklanjuti dua hari kemudian, dia jauh lebih baik,”katanya.

Coetzee menekankan bahwa semua pasiennya sehat, dan menyatakan kekhawatiran bahwa pasien lanjut usia atau yang tidak divaksinasi dapat terkena omicron lebih parah, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau penyakit jantung.

“Yang harus kita khawatirkan sekarang adalah ketika orang yang lebih tua dan tidak divaksinasi terinfeksi dengan varian baru, dan jika mereka tidak divaksinasi, kita akan melihat banyak orang dengan penyakit yang parah,” katanya. [msn]