Sepi Semua dan Terancam Bangkrut, Mal-Mal Diobral Murah

Fenomena penjualan pusat perbelanjaan atau mal masih terus berlanjut hingga kini. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja mengungkapkan obral murah mal ini muncul akibat beberapa faktor. "Saya kira penyebabnya ada dua hal yang utama, (pertama) pandemi Covid-19... dan kedua karena kinerja sebelum Covid-19 kurang maksimal, ini yang membuat masalah," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (28/10/21).

Kondisi keuangan dan performa perusahaan menjadi kunci. Jika sebelum pandemi sudah tidak dalam kondisi baik, maka saat pandemi datang kian mempersulit pelaku usaha. Hal berbeda terjadi pada mal yang memiliki performa lebih baik saat pandemi.

"Mal yang sebelum pandemi baik bahkan sangat baik, jadi bisa punya daya tahan. Jadi ada dua hal, bukan hanya covid tapi juga kinerja yang belum maksimal," jelasnya.

Menjual aset properti menjadi salah satu cara agar bisa bertahan. Fenomena tersebut kini terjadi di berbagai kota di Indonesia antara lain Bandung, Bogor, Jakarta dan lainnya.

"Awal tahun lalu di Jabodetabek saja karena banyak pembatasan-pembatasan di Jabodetabek. Tapi 2021 pembatasan hampir seluruh wilayah Indonesia, apalagi pas PPKM darurat yang hampir seluruh Indonesia, jadi kondisi sulit merata di seluruh Indonesia," ujar Alphonsus.

7 Mal Dijual dan 1 Tutup

Terbaru, mal Cibinong Square di Kabupaten Bogor, Jawa Barat diobral murah Rp 550 miliar. APPBI sudah mencatat bahwa itu bukan kali pertama, melainkan sudah beberapa kali terjadi di beberapa kota di Indonesia.

Ini yang sudah diketahui, tapi masih banyak yang proses penyelamatan atau ambil alih dalam penawaran," papar Alphonsus.

Salah satu gerai ritel yang harus tutup adalah Matahari Department Store (LPPF) di Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor, Jawa Barat, September 2021 lalu. Selain Matahari, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) juga menutup semua gerai Giant pada Juli 2021. Gerai Giant dialihkan menjadi IKEA sebanyak 5 gerai dan sisanya menjadi gerai Hero.

Ada juga nama lain Seperti Ubertos Bandung yang ikut dijual. Selain itu, Golden Truly yang berlokasi di Jalan Gunung Sahari nomor 59, Jakarta Pusat juga resmi menutup operasionalnya. Ini dilakukan sejak 1 Desember 2020.

Fenomena ini terjadi karena tidak semua pusat perbelanjaan yang akan dijual melaporkan aksi korporasi ke asosiasi, sehingga agak sulit untuk menentukan berapa banyak yang akhirnya mal yang dijual atau ditutup. Namun jika menghitung dengan ritel, maka lebih banyak yang akhirnya gulung tikar.

"Kita bedakan pusat perbelanjaan yang menyewakan tempat ke ritel, dengan ritel atau penyewanya. Kalau ritel jauh lebih banyak yang menjual (usahanya)," imbuhnya.

Selain itu, banyak ritel yang angkat kaki dari mal tanpa ada penggantinya. Padahal sebelum pandemi, ini jadi hal biasa, sebab setelah tenant lama pergi, maka tenant baru segera mengisi.

"Keluar masuk penyewaan pusat perbelanjaan itu hal biasa karena ada masa sewa berakhir, ada yang nggak melanjutkan jadi normal. Yang jadi masalah bedanya saat normal banyak pengganti jadi ada yang keluar, pengganti cepat, sekarang nggak ada penggantinya," pungkasnya. [cnbcindonesia]