3 Fakta Terbaru soal Harga Vaksin Gotong Royong

Program vaksinasi gotong royong dilaksanakan mulai 17 Mei 2021. Pelaksanaan vaksinasi tersebut diinisiasi oleh pengusaha swasta melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. 

Vaksinasi bagi pekerja/buruh tersebut dibiayai oleh pengusaha pemberi kerja. Pengusaha membeli vaksinnya dari PT Bio Farma (Persero). Berapa harganya?

1. Harganya Di kisaran Rp 500 Ribu/Dosis

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan perkiraan harga vaksin yang akan dijual ke pengusaha sekitar Rp 500 ribu/dosis. Tapi angka tersebut belum final dan masih dibahas. "Estimasi memang sudah pernah disampaikan kisaran Rp 500 ribu per dosis, itu sudah termasuk pelayanan. Jadi kalau 2 dosis sekitar Rp 1 juta," kata dia dalam dialog virtual, Kamis (6/5/2021). 

Harga finalnya masih dihitung. Pihaknya mendapat pendampingan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), sehingga prosesnya transparan. Setelah itu, harga vaksin akan ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). 

"Kita ini masih menunggu karena masih berproses, mudah-mudahan harga ini nanti bisa kita finalkan sebelum pelaksanaan. Harga ini juga tetap nanti akan diserahkan ke Kementerian Kesehatan untuk ditetapkan," jelasnya.

2. Sebanyak 500 Ribu Vaksin Sudah Siap 

Bio Farma sudah mengantongi 1 juta dosis vaksin virus Corona (COVID-19) dari Sinopharm. Namun, yang dipakai untuk program vaksinasi gotong royong 500 ribu dosis. Dia menjelaskan, sebanyak 500 ribu dosis vaksin merupakan sumbangan dari Uni Emirat Arab (UEA). Itu tidak dipakai untuk vaksinasi gotong royong. 

Vaksin yang dipakai untuk program vaksinasi gotong royong adalah 500 ribu dosis hasil pengadaan PT Kimia Farma dari Sinopharm. "Total 1 juta (dosis) tapi memang untuk khusus dialokasikan vaksin gotong royong 500 ribu, karena 500 ribu sisanya itu berupa donasi," papar Bambang.

3. Hingga September Ada 7,5 Juta Dosis 

Bambang menjelaskan pihaknya menyiapkan pengadaan vaksin gotong royong sebanyak 7,5 juta dosis sampai September. Itu untuk tahap pertama saja. "Jadi memang ini datangnya secara bertahap ya karena memang kita ketahui sendiri kebutuhan vaksin dunia ini kan tinggi ya. Jadi kita berlomba-lomba dan berkompetisi juga untuk mendapatkan suplai yang bisa diperoleh secara kontinyu," terangnya.

Menurutnya perlu kesabaran dalam memperoleh vaksin karena tidak bisa didatangkan sekaligus, dan perlu waktu.[detik]